WELCOME TO iqbaloooon's PAGE--www.iqbaloooon.blogspot.com--Moco-Mangan-Moleh

Senin, 16 Januari 2012

Rangkuman Kisah di Atas Sana [CatPer]

Senja itu gemercik hujan tak henti menyapa, menyambut  setitik semangat menuju puncak abadi, tetapi kami tak ingin bermesraan dengan riuhnya hujan sembari menanti kumandang pujian untuk Sang Kuasa. Senja segera terpejam, kiranya cukup bagi kami untuk memulai pertaruhan, kami memulai pijakan pertama dengan penuh keyakinan, kami terus berjalan walau diselimuti dinginnya pelukan malam.
Hingga kami mendapati sebuah gubuk kecil bercahayakan lampu minyak. Gubuk yang mungkin menjadi pertanda adanya peradaban terakhir di sekitar kami. Sembari sejenak meluruskan tumpuan, kami sempatkan mengisi air yang akan berubah menjadi nyawa tambahan bagi kami nanti. Detik detik berlalu memaksa kami untuk terus berperang. Wajah wajah penuh semangat masih menghiasi perjalanan malam ini.
Memang payah mulai memukul, tapi semangat  dapat menjadi benteng terkuat dalam diri. Hingga akhirnya kami temui sebidang tanah yang menjadi bekas gubuk yang telah termakan usia. Beratnya beban yang tertumpu dibalik punggung kami memaksa kami berlama-lama di persinggahan ini sambil sekedar menghapus dahaga atau bahkan menikmati beberapa batang penghangat penuh kontroversi. Angin malam terus menyemangati, mungkin jiwa kami harus segera memerintah kaki kaki kami untuk melangkah lagi.
Ditengah langkah-langkah kaki kami terdengar gemuruh mesin beroda empat turun membawa hasil bumi karunia Sang Ilahi. Tanpa terasa malam semakin larut, tak terlihat satupun cahaya bintang yang mungkin menjadi pertanda malam ini akan hujan. Kami terus melangkah, gemercik suara mata air terdengar semakin jelas. Suara yang menjadi cambukan bagi kaki kami untuk berlari dan segera berbagi keceriaan dengan hangatnya suasana malam di kokopan.
Langkah kami tak henti bergulir, alangkah bahagianya jiwa saat menginjakkan kaki di shelter pertama ini. Untuk sementara beban berat serasa lenyap dari raga ini. Tak ingin menunggu lama, kami segera membangun tempat perlindungan untuk malam yang masih  panjang ini. Bersantai didepan tenda mungkin pilihan tepat kali ini, mengingat  masih terlalu jauh medan yang harus kami perangi esok hari.
Tanpa terasa kami telah terlelap didalam pelukan mesra kokopan. hingga sinar surya yang tampak disamping kerucut Penanggungan membangunkan kami di minggu pagi. Gemercik air, semilir angin, dan rerumputan yang tak henti menari diiringi hangat indah sang surya mentari membuat kami masih ingin berlama lama dipelukan kokopan ini. Suara gemercik jernihnya mata air seakan mengundang kami untuk sekedar membasuh diri atau meneguk air langsung dari peraduannya. Mentari semakin meninggi, pertanda perut kami harus segera terisi. Nasi ala pendaki ditemani tempe dan dipadu ikan teri dirasa cukup memenuhi nutrisi sampai hari nanti.
Kabut beranjak naik, pertanda bagi kami untuk segera menyusul, kami memulai langkah penuh harapan menuju shelter 2 – pondokan. Centi demi centi kami lampaui, tak terasa sudah 2 jam kami melangkah. Tanpa ada tanda tanda, hujan dating mengiringi langkah kami. Perlahan lahan kami mulai menggigil, sebagian tenaga hanyut bersama aliran air. Namun sekali lagi, semangat menjadi benteng terakhir bagi kami. 2 jam berlalu, hujan mulai membisu, Sang serya mulai Nampak tepat diatas kepala. Sejenak kami berhenti, namun mentari memaksa kami berlama lama di sini, sembari mengeringkan diri setelah 2 jam diguyur hujan.
Terlalu lama berhenti membuat kami malas untuk berdiri, tapi kami harus memaksa kaki kami untuk melangkah lagi, mengingat kira kira 3 jam lagi kami baru sampai di pondokan. Baru saja berjalan, tanjakan dengan elevasi lebih dari setengah siku sudah menyambut kami. Perlahan lahan kami berjuang menaklukkan tanjakan ini meski harus berhenti berkali kali.
Rasa kecewa sempat menghinggapi jiwa kami tatkala kami mendapati sumber air di ujung tanjakan tak mengalir. Tapi apa boleh buat, kami harus bias menahan dahaga lebih lama lagi. Tanjakan ini benar benar menguras tenaga kami. Tapi kami tak ingin berhenti lagi, mengingat masih terlampau jauh jarak yang harus kami lewati.

Semakin lama kami semakin lelah. Di sela sela rapatnya hutan pinus mulai terdengar rengekan rengekan kecil yang mungkin butuh asupan semangat dari sang saudara. Tetapi, lama lama rengekan itu mulai hilang seiring tutunnya hujan. Ya, hujan mulai turun lagi dengan dahsyatnya. Kami tak henti melangkah hingga terlihat kepulan asap keluar dari gubuk gubuk kecil penyimpan belerang. Langkah kaki kami percepat, dengan harapan lebih cepat sampai di pondokan guna mengurangi rasa kedinginan.

Tanpa menunggu lama kami telah menginjakkan kaki di pondokan. Dibawah atap gubuk kami berteduh, menghindari guyuran hujan yang semakin deras saja. Waktu terus berlalu, tapi hujan tak jua reda. Kami mulai menggigil. Sebagian semangat kami lenyap, semangat meraih puncak esok hari seakan sirna. Tujuan dari awal mulai terbuang jauh. Satu lagi masalah bagi kami, kami tak mungkin mendirikan tenda jikalau hujan masih berirama.
Hari mulai gelap, pertanda buruk bagi kami jika tak juga mendirikan tempat perlindungan. Sebuah hidayah akhirnya dating saat salah seorang penambang berbaik hati meminjamkan suraunya untuk kami tempati hingga esok hari. ditengah dingin kami memindahkan karier karier kami masuk ke dalam surau. Alhamdulillah, surau berukuran 3x4 meter ini mampu menampung 22 orang anggota kami, meski kami harus tidur dengan keadaan duduk.
Rasa lelah memaksa mata kami untuk terpejam. Hingga akhirnya suara canda tawa badai khas lembah kidang-lali jiwo membangunkan kami saat hari masih berumur 1 jam. Mungkin hari masih terlalu dini untuk menyambut kami. Terlihat cuaca masih terlalu buruk dan berbahaya. Dan kami pun memutuskan untuk benar benar tidak berjalan menuju puncak. Semakin lama gelap semakin hilang, pertanda malam berganti pagi. Saat itu juga kami merenung, dalam hati berkata “untuk apa kami kemari, kalau bukan untuk meraih puncak.”
tujuan awal, apapun keadaan yang terjadi. Subhanallah, tiba tiba hujan berhenti, mentari mulai terlihat. Semoga itu pertanda bagi kami untuk bergegas menuju Puncak Welirang. Tak ingin membuang kesempatan kami pun segera bersiap. Bersiap menggapai puncak impian.
Kami mulai berjuang lagi. Fisik, mental, logistik, dan tentunya semangat semuanya telah bersiap. Perjuangan berat ini dimulai dengan makadam berliku dan menanjak yang seakan tak ada ujungnya. Memang perjalanan kali ini lebih banyak menguras fisik, tapi yang harus berbicara lebih banyak adalah semangat dan mental. Dan tak lupa dalam hati kami selalu terselip doa kepada sang kuasa, “ya Allah izinkanlah otak kami untuk terus memerintah kaki ini agar terus berjalan lebih jauh lagi”. Sungguh terasa, Dua jam berlalu, makadam mulai terlihat berujung.
Lega rasanya saat kaki ini tak lagi menginjak makadam, melainkan tanah yang sedikit terselimuti oleh belerang. Vegetasi telah berbeda, pinus menjulang mulai hilang, terganti oleh eidelweiss dan candigi yang menandakan titik tertinggi akan segera tercapai. Terlihat tanah lapang yang kami istilahkan seperti lapangan basket. Di situ Kami sempatkan membuka bekal, karena perut belum terisi sejak di pondokan. Kami harus segera berjalan lagi, karena cuaca semakin tak menentu saja.
Medan kali ini 180 derajat berbeda dengan sebelumnya, hampir tak ada kemiringan disini. Namun kami harus tetap waspada karena di kanan tebing di kiri jurang. Dalam kondisi seperti ini hanya kabut yang mungkin menjadi masalah. Kabut yang membuat jarak pandang semakin pendek saja. Tanpa kami sadari, sudah tak ada satupun vegetasi disekeliling kami. Hanya batuan vulkanis yang tersebar bebas, atau bahkan telah tertata oleh tangan tangan manusia yang mungkin “terlalu Kreatif”.
Aroma khas belerang semakin menyengat. Mulai terlihat kepulan asap putih keluar di bibir kawah. Keberadaan oksigen mulai tergusur. Cadangan oksigen yang kami bawa bagaikan makanan ringan, yang membuat penikmatnya merasa ketagihan. Kami terus berjalan hingga kami tak mampu menemui titik yang lebih tinggi lagi selain yang kami injak ini. Apakah ini puncak? Kami belum yakin dengan hal ini. Hingga perkiraan kami diperkuat oleh sebuah batu besar yang bertuliskan “PUNCAK WELIRANG-3156 MDPL”. Tanpa basa basi kami segera bersujud kepada Ilahi. Mengucap sukur atas karunia-Nya. Mengucap selamat kepada para saudara. Dan tak lupa berfoto serta menikmati panorama di tempat ini


Seakan sudah mengerti, kabut mulai menyingkir. Terlihat dengan jelasnya trisula Puncak Arjuno-3339mdpl Berbaris gagah jauh disana. Dan Puncak Penanggungan-1678mdpl walau terlihat sedikit “mini”. Sebuah kebanggaan bagiku bisa berdiri dan melihat tiga puncak pertamaku di sini. Tapi sayang, Kami tak boleh terlalu di tempat ini. Aroma belerang yang semakin menyengat seakan memerintah kami untuk segera turun.

Berani dan Bangga – Majapala.

--END--

1 komentar: